Couple : Cakka & Shilla (IdolaCilik)
Siang itu udara sangat panas. Debu-debu beterbangan. Sambil mencangklong tasnya yang berat, Shilla bergegas melangkahkan kakinya menuju halte. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah.
“Uuuuhhh… sesak banget. Mana panas lagi,” omel Shilla dalam hati.
Bus kota hari itu penuh sesak. Pada jam-jam pulang sekolah, bus kota selalu penuh. Tapi karena udara begitu panas, bus terasa lebih pengap dari biasanya.
Beruntung Shilla masih mendapat tempat duduk di deret ketiga. Ia duduk di dekat jendela. Di sepanjang gang dalam bus, para penumpang berdiri berdesak-desakan. Rata-rata adalah anak-anak SMP dan SMA yang sama-sama pulang dari sekolah.
Shilla merasa tidak nyaman. Di sampingnya duduk seorang pemuda berpakaian serba hitam, dengan memakai kupluk dan kacamata hitam. Preman abis deh pokoknya.
“Uuuuhhh, kalo tau gue bakalan ketemu preman, mending gue naik bus lain aja,” omel Shilla dalam hati.
Shilla jengkel abis. Apalagi preman itu beberapa kali ketahuan menoleh padanya, dan memandanginya.
“Kayaknya kita pernah ketemu, deh,” preman itu tiba-tiba bersuara.
Shilla menoleh.
“Sorry aja yaa, itu cara kenalan paling nggak mutu,” kata Shilla cuek.
Ia pun melengos menoleh keluar jendela.
Preman itu tak bersuara lagi. Dalam hati Shilla bersyukur. Ia malas mengobrol dengan preman itu. Bukan cuma malas, tapi ia juga sedikit takut.
Tiba-tiba bus yang penuh sesak itu berhenti. Seorang nenek tua naik ke atas bus dengan susah payah. Ia berusaha menerobos deretan orang-orang yang berdesakan di pintu masuk.
“Huh, gimana sih Pak Kondektur ini. Masa bus udah penuh sesak gini, masih aja nambah penumpang. Mana yang naik nenek-nenek lagi,” batin Shilla kesal.
Nenek tua itu berdiri berdesakan di antara para penumpang. Anehnya, tak ada orang yang beranjak dan menawarkan tempat duduknya pada nenek itu. Padahal, di bangku dekat nenek itu ada dua orang mahasiswa dan bapak-bapak yang bisa dibilang lebih kuat postur tubuhnya. Shilla sebenarnya ingin memberikan tempat duduknya. Ia merasa berkewajiban membantu nenek tua itu. Tapi Shilla tidak berani melewati preman yang duduk di sebelahnya. Ia duduk terpojok di dekat jendela.
Tiba-tiba tanpa disangka, si preman yang duduk di samping Shilla berdiri, lalu menarik tangan sang nenek.
“Silakan duduk di sini, Nek,” kata preman itu.
Dengan senang hati, nenek itu pun duduk di tempat si preman. Shilla merasa lega. Setidaknya ia telah terbebas dari si preman dan telah terbebas dari tanggung jawab memberikan tempat duduk pada si nenek. Dan diam-diam, Shilla memuji tindakan preman itu dalam hati.
“Hmmm, boleh juga tuh preman. Rupanya ia masih punya rasa sosial juga,” batin Shilla.
Shilla termenung sesaat. Namun tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara Pak Kondektur yang menarik karcis.
“Karcis… karcis…,” Pak Kondektur berusaha menerobos di antara orang-orang yang berdesakan untuk menarik uang karcis.
“Karcis, Mbak!” Pak Kondektur itu memandang ke arah Shilla. Shilla cepat-cepat merogoh sakunya.
“Deg!” jantung Shilla berdegup.
Uang bus yang biasanya selalu ia siapkan di sakunya itu, kini tidak ada. Dengan gugup, Shilla membuka tas dan mencari dompetnya. Dengan cepat, dompet merah jambu itu ketemu. Tapi Shilla kecewa. Setelah dibuka, ternyata hanya ada uang seribu rupiah di dalam dompet itu. Padahal untuk bisa sampai ke rumah, ia harus membayar tiga ribu rupiah.
Jantung Shilla berdegup makin kencang. Dengan cemas, ia membuka semua ruang dalam tasnya. Ia berusaha mencari kalau-kalau ada uang yang terselip. Saat itulah Shilla ingat sesuatu. Tadi waktu istirahat, ia ke kantin bersama Sivia, Ify, dan Acha untuk membeli bakso. Ia telah menggunakan uang dalam sakunya untuk membayar bakso. Sementara itu, Shilla lupa kalau isi dompetnya juga sudah ludes untuk melunasi tagihan uang jaket kelas.
“Cepat, Mbak!” kata Pak Kondektur sekali lagi.
Muka Shilla memerah. Ia tak juga menemukan uang yang dicarinya.
“Ini, Pak, ongkos untuk saya dan dia. Kami turun di Ciputra,” tiba-tiba terdengar suara.
Shilla mendongak. Dilihatnya sang preman tadi menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada Pak Kondektur. Pak Kondektur dengan cepat menandai dua buah karcis, merobeknya, lalu menyerahkannya, satu pada Shilla dan satu pada si preman. Preman itu menyimpan karcisnya di saku jaket hitamnya, tanpa menoleh sedikit pun pada Shilla.
Shilla sendiri tertunduk. Ia malu bukan main. Pertama karena ternyata ia tidak punya uang untuk membayar ongkos bus. Kedua karena ia ditolong oleh orang yang tadi dicuekinya dan bahkan dianggapnya preman.
“Pasar… pasar….,” terdengar Pak Kondektur berseru.
“Nenek turun di sini, Nak. Terima kasih, ya. Sekarang ini sudah jarang orang yang mau membantu orang tua seperti nenek ini,” kata Nenek itu kepada si preman.
“Ah, nggak apa-apa, Nek,” kata preman itu merendah.
Preman itu membantu si nenek turun dari bus. Setelah nenek itu turun, si preman kembali duduk di samping Shilla. Shilla salah tingkah. Ia hendak mengucapkan terima kasih padanya, tapi lidahnya terasa kelu.
“Te… terima kasih atas… bantuannya,” dengan susah payah, akhirnya Shilla bisa juga bersuara.
Preman berbicara tanpa sedikit pun menoleh pada Shilla, ia menjawab
“Nggak apa-apa, kok, Shill.”
Shilla terkejut. Barusan, ia mendengar si preman menyebutkan namanya.
“Kok, anda tahu nama saya?” tanya Shilla bingung.
Preman itu menoleh, lalu tertawa. Shilla kebingungan. Ia berusaha mengenali si preman. Tapi meskipun sudah memeras otak, tetap saja ia tak berhasil mengingat siapa preman itu. Kupluk dan kacamata hitam yang dipakai preman itu menghalangi usaha keras Shilla untuk mengenali sang preman.
“Tadi kan gue udah bilang, sepertinya kita pernah ketemu,” kata preman itu dengan suara renyah.
Shilla meliriknya.
“Setelah gue pikir-pikir, akhirnya gue ingat siapa lo. Lo Shilla, anaknya Pak Zainal yang tinggal di BSD City Tangerang, kan?” tanya preman itu.
“Betul. Tapi, anda ini siapa? Kok tahu papa saya,” tanya Shilla bingung.
Preman itu melepas kupluk dan kacamata hitamnya. eketika Shilla terperangah.
“Ya ampun….., Cakka?!” seru Shilla. Kini ia mengenali preman itu.
Dia adalah Cakka, tetangganya dulu. Lama Shilla tidak bertemu dengannya.
“Kok, Cakka berpenampilan seperti itu sih? Seperti….,” Shilla tak melanjutkan kata-katanya.
“Seperti preman, maksud lo?” tanya Cakka.
Shilla tak enak. Ia diam saja. Tiba-tiba, Cakka tertawa.
“Sebenarnya gue sengaja berpenampilan begini, Shill. Yah, lo kan tahu lah gue ini cakep, apalagi kalau berpenampilan rapi. Bisa-bisa banyak cewek yang ngajak kenalan."
"Uuuh, ge-er!", Shilla memotong.
"Nah, kalau gue berpenampilan preman, pasti mereka akan takut. Ternyata aku berhasil. Lo juga tadi sebenarnya takut sama gue, kan? He, he, he”, kata Cakka bercanda.
Pipi Shilla memerah. Kalau dipikir, semua yang dikatakan Cakka itu benar. Tadi Shilla memang takut pada preman yang ternyata Cakka itu. Trus benar juga kalau dibilang Cakka itu cakep. Tiba-tiba saja perasaan aneh itu menyelimuti Shilla.
“Ha… ha… gue bercanda kok, Shill,” tawa Cakka.
Shilla tak mengerti. Lalu, Cakka pun berbisik.
“Sebenarnya gini,Shill. Hari ini gue pulang dengan membawa barang-barang berharga. Lo tahu kan kalau di jalan rawan kejahatan. Dalam angkutan umum, di terminal, di jalan, dan dimana pun kita harus ekstra hati-hati. Makanya, demi keamanan, gue sengaja berpenampilan preman. Biar orang yang berniat jahat sama gue akan takut duluan lihat tampang gue. Eh, ternyata nggak cuma penjahat yang takut sama gue, tapi lo juga,” kata Cakka.
Dia berbisik dengan mendekat, dekat sekali ke telinga Shilla, dan itu membuat perasaan Shilla semakin aneh.
“Kirain gue, lo tadi preman betulan,” kata Shilla gugup. “Makanya, Shill, jangan hanya menilai orang dari penampilannya. Walaupun penampilannya oke, belum tentu hatinya baik. Sebaliknya, walaupun berpenampilan preman, belum tentu juga orang jahat. Siapa tahu ternyata tuh preman malah gentleman, kayak gue ini,” kata Cakka lagi.
"Uuuuh, lo tuh suka kege-eran terus, deh", Shilla tertunduk.
Ketika Shilla melirik, Cakka itu meliriknya juga.
“Iya, Cakk. Lo benar. Maafin gue ya, Cak, karena tadi udah berprasangka buruk sama lo,” kata Shilla malu-malu.
Cakka tertawa lebar, dan perasaan Shilla semakin aneh.
“Ciputra…. Ciputra,” Pak Kondektur berseru.
Tak terasa mereka telah sampai.
“Ayo turun, Shill, ntar lo ketinggalan di bus lho. Orang cantik seperti lo kan juga barang berharga,” ajak Cakka dengan tatapan penuh arti.
Pipi Shilla memerah lagi.
"Ih, orang kok dibilang barang, sih?"
“Ayo, kok malah bengong?”, ajak Cakka lagi.
Shilla tersadar. Ia pun bergegas bangkit dan mengikuti Cakka turun dari bus. Dalam hati, Shilla bertekad akan lebih berhati-hati dalam menilai seseorang, walau bagaimanapun penampilannya.