Winnie The Pooh Hana Puji Hastuti: Januari 2012

Kamis, 05 Januari 2012

Berawal Desember Berakhir Desember

"cha lo bener bener serius pacaran sama ozy ? Cowok ga jelas yang lo kenal lewat facebook ??" tanya oik sahabat acha

"yap gue serius,gue sayang sama ozy walaupun ya gue sama dia belum pernah ketemu,lagian gue juga udah tau kok siapa dia,gue udah kenal dia lebih dalam"bela acha

"tau dari mana lo ?"

"gue tuh smsan telfon telfonan,jadi g ada yang musti di curigain kan sama ozy"

#Flashbackon#

" semoga dirimu disana kan baik baik saja untuk selamanya disini aku kan selalu rindukan dirimu wahai sahabat ku"

Begitulah isi note yang dibuat ozy

Ozy men tag note ini ke fb acha "raissa arif"

Acha iseng iseng membaca note ozy dan tertarik

"ahmad note mu bagus banget,ini karangan mu ?"

(rise,rio,ka rian dmasiv minjem lagu rindukan dirimu yaa)haha

Begitu isi coment acha disalah satu note ozy

Coment acha mendapat sambutan dari ozy tapi ozy tidak membalas di note melainkan di inbox

"terima kasih kamu mau like note ku,oh ya jangan panggil aku ahmad panggil aja aku ozy"

"oh ya sama sama zy"

Sejak saat itu ozy dan acha dekat dan mereka mulaai berchat dan akhirnya mereka berpacaran

.sudah 3 bulan mereka berpacaran

#flashbackoff#

Pukul sembilan malam

setelah usai dengan acara belajar nya acha segera menyalakan lapt nya dan mengaktifkan internetnya

www.facebook.com

Klik

Terbuka lah fb nya acha

Segera ia buka chat
Dan disitu ada orang yang acha cari yaitu ozy

Ya mereka selalu berjanjian akan on jam 9 tepatnya setelah mereka menyelesaikan acara belajar mereka

"sayang"sapa acha menyisipkan icon tersenyum :)

"sudah belajarnya ?"jawab ozy menyisipkan icon love

"sudah"jawab acha

"oh ya kita kan lahir dibulan yang sama dibulan desember gimana kalo kita rayain bareng di fb"saran ozy
(achapuccino ultah nya diganti desember yah hhe udah alur cerita maaf ya)

"hmm boleh tuuh"

Mereka terus berchat hingga waktu menunjukan pukul 10 malam

"cha udah dulu ya chat nya ! Kamu harus istirahat " saran ozy

"5 menit lagi" pinta acha

"ya deh"

Akhirnya stelah 5 menit mereka off

sebelum tidur acha memikirkan ozy

"sekarang udah akhir bulan november berarti sebentar lagi ultha ku dan seminggu nya ultah ozy,yeyy"


###paginya disekolah

"hai oiik"sapa acha

"hai miss fb"jawab oik

"hhe"

Acha ssegera meletakan tas nya diatas meja dan duduk disebelah acha

"tau ga sih ik ozy mau ngerayain ultah bareng gue!"

"gimana cranya ?"

"di fb ! Udah ultah sama bulan desember jadian desember pula hhee"

"lo beneran percaya sama dia ??"

"PERCAYA 100 % dia tuh baik banget"


'ada sms ada sms'

Suara hape acha yang bersuara doraemon

"tuh kan gue bilang apa dia sms"
Kata acha menunjuk kearah hp

message from: ozy

Cha aku mau pergi main futsal jadi g bisa on dan sms kamu kita ketemuan nanti malam ya jam 9"

Reply to ozy :

Sipp deh zy


###

2 hari menjelang ultah acha

"iih kemana sih tuh orang !! Jangan jangan bener lagi yang dibilang oik dia brengsek"gerutu acha sambil memandang laptop nya

"status nya masih yang kemarin kok"

"berarti dia belom on ??"

"Kemana dia ??"

Acha pun menulis di dinding ozy

"zy kamu kemana aja sih aku telp,aku sms g di bales,sekarang kamu mencoba hilang gitu aja jahat kamu zy!"

Begitu isi wall acha

acha kesaal kesaaal banget sama ozy

###

akhirnya hari kelahiran acha datang

ucapan selamat kepada acha terus berdatangan

Malam nya....

acha membuka facebook nya

1 inbox

Trnyata ozy

"selamat ulang tahun bunga mawar ku yang cantiik maaf disaat kamu ulang tahun aku tidak bisa berkomunikasi dengan kamu !aku harus pergi"

Begitu isi pesannya

"sial tuh cowok,emang yah semua cowok sama aja !"

Acha pun membalas pesan ozy

"jadi gini cara kamu ninggalin aku ?? Pengecut kamu zy"

Ozy mengirim pesan ini pukul 8 malam beda 1 saat acha on

##

disaat ultah ozy

status fb ozy masih yang dulu belum berubah

Acha pun mengklik nama

'ahmad fauzy adriansyah'

betapa kaget nya acha !

Di wall ozy banyak ucapan

Bukan ucapan selamat ulang tahun

Melainkan

Ucapan turut berduka cita

Acha menelusuri lebih dalam wall ozy

Banyak sekali

"zy knapa kamu meninggalkan kami begitu cepat ?? Kenapa ?? semoga arwah mu diterima disisi tuhan zy.semua sikap baik kamu akan selalu kami kenang"

"ka, keke rindu kaka,keke rindu saat kaka nyanyi bareng keke bercanda bareng keke.. Keke g bisa trima kenyataan ini..ka jangan tinggalin keke,keke sayang kaka"

tak kuat acha menahan air matanya

Acha menangis,air matanya semakin menjadi saat melihat kiriman ozy

"acha,ozy harus pergi,ozy harus pergi jauh,jaga diri acha baik baik yah,selamat ulang tahun,ozy sayang acha"

Acha pun segera mencari tahu kepada teman dekatnya yaitu rio

"rio apa yang trjadi sama ozy"

"ozy meninggal cha dia trkena kanker otak stadium akhir"

"gak gak mungkin,ozy sehat buktinya dia bisa main futsal sekolaah"

"selama 3 bulan terakhir ini dia dirawat dirumah sakit penjagaan nya ketat sangat ketat,dan teman satu satunya adalah laptop"

acha g mampu membalas kata kata rio

"selamat jalan zy,semoga arwah diterima disisinya,hilanglah sahabat ku,hilanglah anak teladan disekolah"begitu isi wall rio

Acha mencoba tabah tapii dia g bisaa dia terus menangisi ozy !

secerca cahaya menembus jendela kamar acha

"cha relain aku,aku sayang kamu,kalo kamu kangen aku ini untuk kamu"

"ozzzzy"acha berteriak tangannya menjulur kepada ozy yang lama lama semakin menjauh dari pandangannya,air matanya berlinang deras

Arwah ozy meninggalkan sebuah buku,buku itu isinya tentang harian ozy dari ia belum sakit sampai ia sakit. Angin berhembus cepat membawa secerca cahaya itu pergi !

TAMAT

Goresan Cinta

   Alvin Jonathan. Sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Sahabat yang selalu membuat duniaku berwarna. Sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkan tempat untuk bercerita. Sahabat yang sudah mengerti sifat-sifatku dan aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat sepertinya.

Aku dan Alvin mempunyai hobi yang sama, yaitu bermain musik. Alat musik yang dikuasai Alvin adalah piano, sedangkan aku senang bermain biola. Namun Alvin lebih pandai menyalurkan bakatnya. Alvin sering mengikuti konser atau perlombaan, bahkan dia pernah mengikuti lomba di Amerika. Keahlian Alvin memang sudah terbukti, Alvin banyak mendapatkan penghargaan dan hal itu membuatku iri.Aku memang senang bermain biola namun aku tahu bahwa kemampuanku masih sangat standar. Aku tidak seperti Alvin yang mengikuti kursus, aku berlatih sendiri.

Dulu sewaktu aku berusia 7 tahun, mama mengajariku bermain biola. Mama adalah pemain biola yang cukup terkenal, namun saat ingin mengikuti konser di Perancis, pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan akhirnya mama meninggal. Seluruh keluargaku sangat terpukul atas kejadian itu dan karena aku anak tunggal, mereka mengharapkan aku untuk menjadi penerus mama.Aku sebenarnya kesulitan untuk mewujudkan harapan itu karena mereka meminta agar aku belajar bermain biola sendiri dan tidak mengikuti kursus, seperti yang dilakukan mama dulu. Alvin selalu memberiku semangat, dia selalu mengingatkanku untuk terus berlatih. Bahkan Alvin sering menawariku untuk mengikuti perlombaan di tempat kursusnya, hanya saja aku merasa belum siap dan aku menolaknya.

“Via, ada perlombaan biola lagi lho. Para juaranya nanti dapat kesempatan untuk sekolah musik di Paris. Ayolah ikut !” ajak Alvin seperti biasanya.

“Mmm…gak deh. Aku ngrasa belum siap Vin.”

“Trus kapan kamu ngrasa siap? Jadi orang itu harus berani mencoba. Cari pengalaman aja. Ingat Vi, kamu harus jadi penerus mamamu,” kata Alvin.

“Tapi aku…”

“Udahlah ikut aja! Nanti aku ambilin formulirnya.”

Ya, Alvin benar. Aku harus mulai mencoba. Menang atau kalah itu urusan belakangan yang jelas aku harus mengikuti perlombaan itu dan yang terpenting keluargaku harus mengetahui hal ini. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa.

****

Hari ini adalah babak penyisihan pertama. Aku memang akhirnya setuju untuk mengikuti perlombaan itu. Papa, kakek dan Alvin datang menemaniku.

Jujur, aku takut. .

Aku belum pernah bermain biola di depan banyak orang.

“Via, Papa dan Kakek sangat mengharapkan kamu bisa lolos dipenyisihan ini. Tunjukan pada kami.” Tiba-tiba papa menghampiriku.Kata-kata papa terus terngiang di pikiranku. Aku menjadi sangat terbebani dengan kata-kata papa.

“Via, lolos atau enggak, itu urusan belakangan. Aku juga sering gagal kok. Justru kegagalan itu adalah pelajaran yang paling baik. Sekarang kamu bermainlah dengan hati.” Alvin berusaha menghiburku.

“Berikutnya kita panggil peserta dengan nomor undian 10, Sivia Azizah. Beri sambutan yang meriah.” MC sudah memanggil namaku, ini saatnya untuk mempersembahkan yang terbaik.

Tepuk tangan menyambutku saat aku berada tepat di tengah panggung. Aku memberanikan diri untuk tersenyum, meski sangat gugup. Di kursi penonton aku melihat ayah, kakek dan Alvin menatapku penuh arti.

“Saya akan membawakan lagu ciptaan mama saya, Desmina Azizah, I Wish You Hear My Song dan Give Me Your Love.”

Kutarik napas dalam-dalam, lalu aku mulai mengesek biolaku. Aku mencoba menghayati setiap nada yang terdengar. Sampai pada lagu terakhir, aku merasa semua penonton terdiam, aku tidak tahu, mungkin permainanku tidak bagus.Tapi setelah aku berhenti memainkan biolaku, ku dengar tepuk tangan riuh dari para penonton. Semoga apa yang ku tampilkan adalah yang terbaik.

“Permainan yang bagus, Vi. Selamat ya.” Alvin memelukku saat aku turun dari panggung.Aku hanya tersenyum kecil. Alvin mengajakku duduk di bangku penonton untuk menyaksikan penampilan para peserta lain. Aku tidak yakin bisa masuk 15 besar. Jumlah seluruh pesertanya saja hampir 50 orang dan menurutku semua peserta bermain bagus.

“Baik, semua peserta sudah menampilkan yang terbaik. Kini saatnya pengumuman para peserta yang lolos 15 besar.”

Aku mendengar tepuk tangan yang meriah dari penonton. Aku merasa takut.

“Alyssa Saufika, Zevana Arga, Gabriel Angeline, Deva…..”

Lama sekali. Kenapa namaku tidak disebut?

“Yang terakhir adalah Sivia Azizah. Selamat kalian semua lolos ke 15 besar. Grand final akan diadakan 4 bulan lagi. Tingkatkan kemampuan kalian dan tunjukan pada saat grand final. Terima kasih,” kata MC, sebelum akhirnya meninggalkan panggung.

“Selamat Via , kamu sudah membuktikan pada Kakek dan Papa. Mamamu pasti bangga. Buktikan 4 bulan mendatang. ” Kakek memelukku. Aku merasa sangat senang.

“Via aku punya satu berita lagi. Dua bulan lagi aku akan mengadakan konser tunggal. Aku mau kamu bermain bersamaku, Nyonya Sivia,” ajak Alvin sambil tertawa.

“A..apa? Tidak, terima kasih, Tuan Alvin,” jawabku cepat.

“Oh, baik kalau begitu. Aku marah.” Alvin cemberut.

“Yah, kok marah sih? Ya sudah lah. Aku mau. “ jawabku tak tega .

****

Ini saatnya, beberapa menit lagi konser tunggal Alvin dimulai. Ayah Alvin sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari tempat, dekorasi, MC serta piano indah di atas panggung dan semuannya sangat menakjubkan. Penonton yang hadir bukan hanya keluarga Alvinsaja, tapi juga teman-teman Alvin, beberapa musisi terkenal, dan beberapa artis.

Acara kini sudah dimulai. Alvin sudah duduk di depan pianonya, di atas panggung. Hari ini penampilan Alvin sangat berbeda, lebih segar dan terlihat lebih tampan. Dia menggunakan kemeja putih yang sangat serasi dengan warna pianonya.

Alvin akan memainkan 10 lagu dan 1 buah lagu akan dimainkan bersamaku. Sambil bermain piano, Alvin juga bernyanyi. Suaranya sangat indah. Semua penonton terdiam seakan terbius oleh penampilan Alvin. “Lagu yang terakhir berjudul You Are The Best Angel. Tapi kali ini saya akan ditemani sahabat saya, Sivia. Saya mohon tepuk tangannya untuk Sivia” ujar Alvin dari atas panggung.

Aku naik ke atas panggung. Ku tatap semua penonton, lalu tersenyum. Alvin menganggukan kepalanya. Sorot matanya benar-benar dalam. Aku tersenyum padanya dan mulai menggesek biolaku.Suara lembut Alvin membuatku sangat berhati-hati akan permainanku. Sampai-sampai aku tidak menghayatinya. Aku gugup. Tiba-tiba nada yang kumainkan fals. Saat ku tatap Alvin, dia tampak bingung. Aku semakin tegang. Aku sudah melakukan kesalahan.

Fatal!

Alvin berhenti memainkan pianonya. Ku lihat tangannya gemetar. Dia menatapku cemas. Kesalahanku saat bermain biola mengakibatkan Alvin menjadi bingung dan melakukan kesalahan juga. Kami terdiam. Ku dengar penonton mulai berisik.

Alvin panik.

Alvin melanjutkan lagunya tanpa diiringi piano. Setelah lagu selesai dinyanyikan, penonton bertepuk tangan. Wajah Alvin pucat. Dia langsung pergi meninggalkanku di atas panggung. Aku segera mencari ruang kostum. Saat ingin membuka pintu, aku mendengar percakapan di dalam.

“Anak bodoh. Kenapa kamu melakukan kesalahan? Kamu tahu, banyak teman-teman Papa yang menonton, mau ditaruh mana muka Papa. Keterlaluan !”

“Maaf. Aku benar-benar gugup. Aku binggung, Pa.”

“Makanya, dengarkan kata-kata Papa. Tidak perlu kamu mengajak pemain biola gadungan seperti dia. Berbakat apa? Permainannya sangat jelek. Seperti pengamen kampungan.”

Tiba-tiba pintu terbuka. Papa Alvin kaget melihat aku yang berdiri di depan pintu. Papa Alvin tidak berkata apa-apa. Beliau langsung pergi setelah menatapku tajam. Alvin menatapku tajam.

“Puas kamu, Vi? Sudah puas kamu mempermalukan aku? Sudah puas menghancurkan keinginanku?” teriak Alvin.

“Maaf. Aku benar-benar gugup. Ak…aku…”

“Halah, sudahlah. Kamu itu teman yang tidak tahu berterima kasih.”

Alvin lalu berdiri menghampiriku dan mengambil biola yang ku pegang lalu melemparnya sekuat tenaga. Biolaku menghantam tembok, Alvin juga menginjak biola itu dan patah.

“Alvin, biolaku?”

“Biarkan. Biolamu tidak ada gunanya. Hanya membawa kesialan. Aku benci biola itu dan aku benci kamu, Sivia. Semua yang telah aku persiapkan bertahun-tahun, hanya dalam hitungan menit kamu hancurkan bersama biolamu yang gembel itu,” bentak Alvin.

“Cukup Vin. Aku memang salah. Aku memang pemain biola gadungan. Aku seperti pengamen kampungan. Tapi Vin, biolaku ini sangat berharga, ini peninggalan almarhum mama. Kamu boleh mencaciku. Tapi bukan dengan merusak biolaku. Jika konsermu kali ini gagal, kamu bisa mengadakan konser lagi. Tapi aku? Apa aku bisa mendapatkan biola sama persis seperti ini? Pikir, Vin!! Kamu terlalu egois. Tidak memikirkan perasaanku juga.”

Aku tidak bisa menahan tangisku. Aku pergi meninggalkan Alvin. Aku benci hari ini. Benci semua kebodohan yang sudah aku lakukan. Maaf Vin, tapi kamu udah keterlaluan !

****

Ternyata hidup tanpa sahabat itu sangat tidak nyaman. Sepi. Itu yang aku rasakan 2 minggu terakhir ini. Aku dan Alvin memang sudah tidak berkomuikasi lagi. Tapi memang itu adalah jalan terbaik. Pagi ini kuawali hari dengan kemalasan. Saat ingin berangkat sekolah, seperti biasa aku tidak bertemu papa. Dia pasti sudah berangkat kerja. Hanya ada Mbok Jum yang setia menemani pagiku. Aku menemukan sebuah biola berwarna merah muda di depan pintu rumahku. Sangat cantik. Aku heran, mengapa ada biola di depan pintu rumah. Siapa yang meletakannya? Oh…mungkin papa ingin memberi kejutan.

“Via, aku turut berdukacita, ya,” ucap Gabriel saat aku baru tiba di kelas.

“Apa?” tanyaku heran.

“Sabar ya, Vi, semua pasti ada hikmahnya,” kata seorang murid lain.

Dan dengan seketika semua orang yang berada di dalam kelas menghampiriku, menyalamiku dan berusaha menghiburku. Seakan ada sesuatu hal yang terjadi. Tapi aku belum juga mengerti.

“Acha, ada apa sih? Kok teman-teman menyalamiku?” tanyaku pada Acha akhirnya.

“Lho? Kamu gimana sih, Vi. Semua menyalami kamu karena kita turut berdukacita atas meninggalnya Alvin, dia kan sahabat kamu. Jadi pasti kamu sedih banget, ya? Sabar ya, Via.”

Tuhan, apa yang baru aku dengar? Alvin? Alvin Jonathan? Meninggal? Aku pasti mimpi. Alvin gak mungkin meninggal. Sangat konyol. Tuhan sadarkan aku dari mimpi buruk ini? Jantungku berdetak kencang. Pandanganku mulai berbayang. Tubuhku lemas hingga akhirnya semuannya menjadi gelap.

****

Aku bahagia atas semua anugrah yang Tuhan beri
Terlebih saat ku menemukan wanita terindah seperti dirinya
Yang mampu hadirkan cinta disetiap hembusan nafasku
Berikan ku kedamaian disetiap langkah hidupku
Sentuhan kehangatannya dalam setiap mimpi-mimpiku
Sayang, aku terlalu bodoh
Tak mampu menjaga hatinya
Melukai perasaannya
Membuat hatinya mati kepadaku
Kini…
Dalam sepinya kalbu, aku akan pergi
Bawa putihnya cintaku dan berharap dirinya kan bahagia

***A.J.S dalam goresan cinta

Ribuan kali aku membaca surat itu namun air mataku tetap tidak mau berhenti. Surat itu diberikan oleh Papa Alvin saat aku datang ke rumahnya.

Alvin, mengapa semua ini terjadi? Mengapa kamu benar-benar pergi dari hidupku? Perih rasanya mengingat Alvin.Bayang-bayang kematian Alvin yang tragis seolah menghantuiku. Alvin meninggal setelah mengantarkan biola itu ke rumahku, dia kecelakaan, mobilnya tertabrak kereta api dan kini aku membenci diriku sendiri. Aku membenci biola itu? Ya, biola merah muda yang sangat cantik dari Alvin dan dibelakang biola itu ada inisial namaku, S.A . Alvin ingin menggantikan biolaku yang rusak dengan yang baru. Sayangnya setelah biola itu tergantikan, justru Alvin yang kini membuat hatiku sakit.

Mengenangnya, mengingat semua tentang persahabatan kita, sungguh menyesakan dadaku. Ingin ku putar waktu dan perbaiki semua kesalahkan ku pada Alvin.Penyesalan ini sungguh memilukan.

Aku benci biola!!!

Biola telah membuat 2 orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku. mama, Alvin, lalu besok siapa lagi? Aku benci biola! Aku benci mendengar setiap nada yang dihasilkan barang itu. Aku benci mendengar setiap alunan nadanya. Nada yang membuatku mengingat semua kenangan pahit. Akan ku buang jauh-jauh impianku untuk menjadi pemain biola . Maaf mama, papa, Alvin, aku tidak akan menyentuh biola lagi. Terlalu banyak kenangan buruk yang sudah kulewati bersama biola. Aku tidak akan melanjutkan perlombaan itu.

****

“Selamat datang pada konser kolaborasi 2 musisi handal. Para hadirin dipersilakan duduk dengan tenang karena konser akan kita mulai. Ini dia Desmina Azizah dan Alvin Jonathan. Beri tepuk tangan yang meriah.

Mama? Alvin?

Aku melihat mereka. Aku harap semua yang ada di depan mataku benar. Mama, Alvin, aku sangat merindukan kalian. Tapi bagimana mungkin mereka dapat konser bersama? Bukankah mama tidak mengenal Alvin?

“Lagu ini kami persembahkan untuk seseorang yang sangat kami cintai. Dia sedang menghadapi banyak cobaaan. Tapi kami yakin, dia pasti mampu menghadapi semuanya. Lagu ini berjudul Give Me The Best.”

Sudah lama aku tidak mendengar suara mama.Beberapa saat kemudian, mama memainkan biola biru muda kesayangannya dan Alvin dengan indah menyanyi dan memainkan pianonya. Semua penonton membisu, termasuk aku. Mendengarkan dan menghayati setiap syair lagu. Hingga sampai lagu selesai, tatapan mataku tidak pernah lepas dari mereka.

“Untuk seseorang yang berada di bangku penonton, saya hanya ingin berkata, bahwa jangan pernah menyia-nyiakan talenta yang sudah Tuhan beri. Pergunakanlah, karena tidak semua orang memiliki kemampuan itu. Sivia, mainkanlah nada-nada indah melalui biolamu. Buatlah kami tersenyum. Mendengar setiap alunan indah yang kan tercipta.”

Dengan segera aku berusaha berlari mengejar bayangan mama dan Alvin yang semakin menjauh.

“Mama……….Alvin……..” teriakku.

Keringat mengalir di tubuhku. Aku tersentak. Ketika ku sadari, aku masih berada di atas kasur. Bukan di konser. Jadi semua itu hanya mimpi? Kenapa terasa begitu nyata? Lalu apa maksud dari perkataan Alvin dan mama? Tuhan…bantu aku menjawab semua ini. Aku tidak mengerti.

****
Paris.
Kini kehidupanku berlanjut di kota impian mama, saat mama ingin mengadakan konser dulu. Akhirnya aku mengikuti Grand Final lomba biola itu dan ternyata Tuhan mempunyai rencana indah untukku. Aku menang dan aku mendapat beasiswa untuk memperdalam kemampuanku bermusik. Di Paris. Aku meninggalkan bangku SMA yang banyak memberiku kenangan. Berat memang. Tapi inilah keputusanku. Semua ini kupersembahkan untuk mama, papa dan Alvin. Juga semua orang yang telah mendukungku.. Aku dan biola akan tetap bersatu.Aku dan musik tidak akan pernah terpisahkan lagi.Aku memainkan biolaku. Memainkan lagu ciptaan mama, memainkan lagu ciptaan Alvin. Dalam setiap alunan nadanya mengantarkan rasa rindu dan sayangku untuk mama dan Alvin yang kini berada di tempat terindah.Terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan.
Terima kasih atas setiap goresan cinta yang telah tercipta.

***** THE END *****